
Metode Full Costing adalah pendekatan akuntansi biaya yang memasukkan seluruh komponen biaya produksi ke dalam Harga Pokok Produksi (HPP), tanpa memedulikan apakah biaya tersebut bersifat tetap (fixed) atau variabel.
Bagi IKM di DIY—terutama yang bergerak di sektor manufaktur mikro seperti kerajinan kayu, batik, perak, maupun kuliner kemasan—metode ini sangat aman karena memastikan tidak ada biaya "tak kasatmata" yang luput dari perhitungan harga jual.
Berikut adalah breakdown pemanfaatan metode Full Costing untuk menentukan harga jual yang akurat:
Komponen Biaya dalam Full Costing
Dalam Full Costing, rumus dasar untuk menentukan HPP adalah:
HPP = Biaya Bahan Baku + Biaya Tenaga Kerja Langsung + BOP Tetap + BOP Variabel
BOP (Biaya Overhead Pabrik): Biaya pendukung produksi selain bahan baku utama dan upah tukang. Contohnya: listrik workshop, gas, penyusutan alat, atau sewa tempat.
Langkah Menghitung Harga Jual (Contoh Kasus IKM Blangkon di Jogja)
Mari kita simulasikan IKM yang memproduksi 100 buah Blangkon dalam satu bulan.
Langkah 1: Identifikasi & Total Seluruh Biaya
Kategori BiayaKomponen BiayaJumlah (Rp)Biaya Bahan Baku (BBB)Kain batik, furing, kertas karton, lem3.000.000Biaya Tenaga Kerja Langsung (BTKL)Upah penjahit/pengrajin per blangkon2.500.000BOP VariabelBenang, listrik mesin jahit (berubah sesuai kuantitas)500.000BOP TetapPenyusutan mesin jahit, sewa workshop bulanan1.000.000Biaya Non-ProduksiBiaya pemasaran (kuota internet, brosur) & admin1.000.000TOTAL BIAYA8.000.000
Langkah 2: Hitung Harga Pokok Produksi (HPP) per Unit
Gunakan semua biaya produksi (BBB + BTKL + BOP Variabel + BOP Tetap):
- Total Biaya Produksi = Rp 3.000.000 + Rp 2.500.000 + Rp 500.000 + Rp 1.000.000 = Rp 7.000.000
- HPP per unit = Rp 7.000.000/100 / unit = Rp 70.000 / buah
Langkah 3: Tambahkan Biaya Non-Produksi
Biaya non-produksi per unit = Rp 1.000.000/100 unit = Rp 10.000
- Total Harga Pokok Produk = Rp 70.000 + Rp 10.000 = Rp 80.000 Ini adalah titik impas / Break-Even per produk).
Langkah 4: Tentukan Target Margin & Harga Jual
Jika pengrajin blangkon menginginkan keuntungan (margin) sebesar 30% dari total biaya:
- Target Profit = 30% x Rp 80.000 = Rp 24.000
- Harga Jual Minimal = Rp 80.000 + Rp 24.000 = Rp 104.000 / buah
Keuntungan Metode Ini untuk IKM DIY
- Perlindungan dari Kerugian: Banyak IKM Jogja merasa "uangnya habis terus" padahal produknya laku. Itu terjadi karena mereka lupa menghitung biaya penyusutan alat atau sewa tempat (BOP Tetap). Full Costing mengunci semua biaya ini agar masuk ke kantong konsumen.
- Standarisasi Harga untuk Reseller/Distributor: Dengan HPP yang pasti, IKM bisa menghitung struktur diskon yang aman jika ada toko oleh-oleh di Malioboro atau bandara yang ingin menjadi reseller.
- Lebih Objektif Menilai Pasar: Jika harga jual dari metode Full Costing (misal Rp 104.000) ternyata jauh lebih tinggi dari harga pasar, IKM tahu persis bagian mana yang harus diefisienkan (misal: mencari bahan baku yang lebih murah atau mempercepat waktu produksi).
