
Dalam khazanah kebijaksanaan Jawa, diyakini bahwa seorang pemimpin sejati tidak semata-mata dilahirkan oleh nasib, melainkan ditempa oleh kearifan alam semesta. Jauh di masa lampau, filosofi ini terekam dalam epos Ramayana. Alkisah, sebelum Wibisana dinobatkan sebagai Raja Alengka yang baru, Sri Rama mewariskan sebuah wejangan luhur bernama Astabrata; Asta yang berarti delapan, dan Brata yang bermakna laku atau watak. Pesan utamanya sungguh mendalam: untuk memimpin manusia, seseorang harus terlebih dahulu menyatu dan menyerap delapan watak unsur alam ke dalam jiwanya.
Hari ini, ketika kita tidak lagi sekadar menapak di atas tanah melainkan juga bermukim di dalam ruang-ruang siber, sebuah pertanyaan besar muncul: masih relevankah petuah kuno ini? Saat teknologi informasi bergerak begitu liar, merambah cepat dari urusan dapur hingga meja birokrasi tertinggi, dan kehidupan terasa berjejal dalam pusaran algoritma, media sosial, serta kecerdasan buatan, Astabrata justru menemukan napas barunya. Ia menjadi jangkar agar kita tidak kehilangan sisi kemanusiaan. Sebab, secanggih apa pun teknologi yang kita bangun, layar gawai dan deretan kode pemrograman tidak memiliki hati nurani; kearifan manusialah yang harus mengendalikannya.
Perjalanan seorang pemimpin di era digital tetap harus dimulai dengan membumi. Ia harus memiliki sifat Bumi (Kisma) dan Samudra (Banyu). Di saat semua orang dengan mudah tersulut emosi oleh satu unggahan viral atau potongan video pendek, watak bumi mengingatkan bahwa di balik tumpukan big data, ada manusia nyata dengan masalah yang nyata. Pemimpin harus menjadi fondasi yang sabar dan mengayomi. Ditambah dengan kebijaksanaan samudra yang sudi menampung segala aliran sungai tanpa menolak, seorang pemimpin dituntut berjiwa besar untuk menyerap keriuhan digital, entah itu hoaks, nyinyiran, atau budaya cancel culture tanpa kehilangan ketenangan, lalu menyaringnya menjadi lautan informasi yang jernih.
Dari fondasi yang tenang itu, seorang pemimpin harus memancarkan energi layaknya Matahari (Surya) dan memiliki wawasan seluas Angkasa. Pemimpin sejati tidak gagap atau anti terhadap disrupsi teknologi, melainkan menampungnya dengan pikiran yang terbuka laksana angkasa yang luas. Teknologi tersebut kemudian digunakannya layaknya matahari yang bersinar adil: untuk mendistribusikan akses, pengetahuan, dan peluang secara merata kepada semua orang. Lalu, ketika krisis atau kepanikan massal meledak di media sosial dan kegelapan seolah menyelimuti, ia harus mampu mengubah wujudnya menjadi Bulan (Candra). Alih-alih ikut reaktif, kehadirannya harus membawa cahaya pencerahan berbasis fakta yang menyejukkan dan memulihkan kewarasan publik.
