Pengembangan Prototype ATG 2026, BPTTG Fokus Hadirkan Solusi Penepung Cabe untuk IKM

By: dwi | Posted on: 26 Juni 2026

Yogyakarta – Balai Pengembangan Teknologi Tepat Guna (BPTTG) Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY mulai mematangkan pelaksanaan kegiatan Prototype Alat Teknologi Tepat Guna (ATG) Tahun 2026 melalui rapat persiapan yang dilaksanakan pada Jumat (19/6). Rapat dipimpin langsung oleh Kepala BPTTG, Anton Raharja, S.T.P., M.Si., dan dihadiri oleh perwakilan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) olahan cabe, serta jajaran BPTTG.

Pada tahun 2026, kegiatan prototype ATG difokuskan pada pengembangan alat penepung cabe sebagai salah satu inovasi teknologi tepat guna untuk mendukung peningkatan daya saing IKM olahan hasil pertanian. Pengembangan alat ini dilatarbelakangi oleh tingginya produksi cabe pada musim panen yang sering kali tidak diimbangi dengan kemampuan pengolahan dan penyimpanan, sehingga berdampak pada fluktuasi harga jual di tingkat petani.

Kepala BPTTG, Anton Raharja, menyampaikan bahwa pengembangan alat penepung cabe diharapkan mampu menjadi alternatif solusi bagi masyarakat dalam mengolah hasil panen menjadi produk bernilai tambah.

“Aktivitas prototype ATG ini diharapkan dapat memberikan alternatif solusi terhadap kondisi saat panen, meningkatkan keawetan produk, membuka peluang diversifikasi olahan serbuk cabe, serta meningkatkan nilai ekonomi dan harga jual cabe. Alat yang dihasilkan juga harus efektif dan efisien untuk diterapkan pada IKM olahan cabe,” ungkap Anton.

Pelaksanaan kegiatan prototype akan dilaksanakan dalam tiga tahapan, yaitu persiapan, pelaksanaan, serta evaluasi dan pelaporan. Tahap pelaksanaan diawali dengan pengadaan bahan pada Juli 2026, dilanjutkan pembuatan alat pada Agustus hingga September 2026. Setelah itu akan dilakukan rapat evaluasi pelaksanaan pada September 2026. Sementara proses pengujian alat, evaluasi hasil, dan penyusunan laporan kegiatan dijadwalkan berlangsung pada November hingga Desember 2026.

Dalam rapat tersebut, Satriyo Krido Wahono, S.T., Ph.D. dari BRIN memberikan sejumlah masukan teknis berdasarkan pengalaman di lapangan. Salah satu perhatian utama adalah masih ditemukannya permasalahan pada mesin penepung yang telah digunakan IKM, seperti debu cabe yang menyebar akibat kurang rapatnya konstruksi alat, kapasitas mesin yang terbatas, serta keterbatasan daya listrik yang dimiliki pelaku usaha. 

Selain itu, BRIN juga menyoroti pentingnya memperhatikan aspek keselamatan operator melalui desain alat dan SOP pembersihan, pengendalian suhu penepungan agar tidak melebihi 60°C untuk menjaga kualitas produk, penerapan standar mutu sesuai SNI 01-3389-1994 tentang Cabe Kering, serta perlunya sortasi bahan baku sebelum proses produksi.

Masukan serupa disampaikan oleh perwakilan IKM Olahan Cabe KWT Melati Nyoss. Mereka menyebut bahwa mesin yang saat ini digunakan masih menghadapi kendala serupa, terutama terkait debu cabe dan kapasitas produksi. Berdasarkan pengalaman pelaku usaha, cabe yang akan ditepungkan harus benar-benar kering dengan ciri berbunyi “kres” agar menghasilkan kualitas serbuk yang baik.

Menanggapi berbagai masukan tersebut, tim BPTTG menyatakan akan melakukan sejumlah pengujian teknis pada tahap pengembangan prototype. Variasi kecepatan putaran mesin akan diuji untuk memperoleh performa terbaik dengan tetap menjaga suhu operasi. Selain itu, pemilihan dinamo listrik juga akan mempertimbangkan efisiensi daya agar alat dapat digunakan oleh IKM dengan kapasitas listrik terbatas.

Berbagai parameter teknis, seperti putaran mesin, kapasitas alat, konsumsi daya, aliran udara, hingga suhu operasi akan dicatat selama proses uji coba sebagai bahan evaluasi dan penyempurnaan desain.

Melalui pengembangan prototype alat penepung cabe ini, BPTTG Disperindag DIY berharap dapat menghadirkan inovasi teknologi tepat guna yang sesuai dengan kebutuhan pelaku IKM, meningkatkan produktivitas dan kualitas produk, serta memperkuat daya saing industri olahan cabe di Daerah Istimewa Yogyakarta.


Harga Sembako