Berita
Klinik Pengembangan Usaha Kecil: Peningkatan Kapasitas Daya Saing IKM DIY Melalui Penguatan Sistem A
Daerah Istimewa Yogyakarta sejak dahulu dikenal sebagai tempat berkumpulnya orang-orang kreatif. Jika kita berjalan-jalan menyusuri sudut-sudut kota hingga pelosok desa di Jogja, kita akan dengan mudah menemukan berbagai macam usaha kecil yang sangat hidup. Dari wajan-wajan besar yang menggoreng keripik di daerah Bantul, dentingan alat pemotong kain di sentra konveksi Sleman, keahlian tangan para pengukir kayu dan perak, hingga keharuman wangi batik yang digodok di periuk-periuk tradisional. Industri Kecil dan Menengah, atau yang sering kita singkat sebagai IKM, adalah tulang punggung sejati yang memberi makan ribuan keluarga di DIY. Ketika ada krisis ekonomi atau hantaman kondisi luar yang tidak pasti, IKM di Jogja terbukti menjadi benteng pertahanan yang paling kuat. Namun, jika kita melihat lebih dekat dan berbincang jujur dengan para pemilik usaha ini, kita akan mendengarkan kisah-kisah perjuangan yang luar biasa berat.
Banyak pengusaha IKM kita yang bekerja sangat keras dari pagi hingga malam. Tangan mereka kasar karena memegang bahan baku, mata mereka merah karena kurang tidur mengejar tenggat waktu pesanan, dan pikiran mereka terus berputar memikirkan cara membayar bahan untuk esok hari. Produk yang mereka buat sebenarnya sangat bagus, kualitasnya tidak kalah dengan barang-barang yang dijual di mal besar atau barang impor buatan pabrik luar negeri. Akan tetapi, ketika ditanya berapa keuntungan bersih yang benar-benar masuk ke kantong pribadi di akhir bulan, tidak sedikit yang menghela napas panjang dan menjawab bingung. Uangnya sering kali menguap tidak berbekas. Barang laku keras, tetapi kas toko selalu kosong. Keadaan inilah yang menjadi alasan utama mengapa banyak IKM di DIY sulit untuk berkembang menjadi lebih besar. Mereka terjebak dalam lingkaran hanya cukup untuk bertahan hidup dari hari ke hari, tanpa memiliki kemampuan untuk bersaing secara sehat dan memperbesar skala bisnisnya.
Akar masalah dari fenomena menyedihkan ini sebenarnya terletak pada satu kebiasaan lama yang belum kita benahi bersama, yaitu cara kita mengelola uang dan biaya dalam usaha. Sebagian besar pelaku IKM di Jogja, yang mungkin sebagian besar hanya menyelesaikan pendidikan hingga jenjang Sekolah Menengah Atas, menjalankan bisnisnya murni mengandalkan naluri, pengalaman, atau sekadar ikut-ikutan harga tetangga. Ketika ditanya mengapa menjual produk dengan harga lima puluh ribu rupiah, jawabannya sering kali sederhana, karena toko sebelah juga menjual dengan harga lima puluh ribu. Padahal, bahan baku yang digunakan belum tentu sama, jumlah karyawan yang dibayar berbeda, dan biaya listrik atau sewa tempatnya pun jelas berbeda. Menjalankan bisnis dengan cara ikut-ikutan atau berdasarkan perkiraan kasar seperti ini ibarat kita mengendarai sepeda motor di malam hari tanpa menyalakan lampu utama. Kita mungkin bisa berjalan pelan, tetapi kita tidak akan pernah tahu kapan ada lubang besar di depan yang siap membuat kita terjatuh.
Di sinilah letak pentingnya penguatan dua hal utama dalam usaha Anda, yaitu Sistem Akuntansi dan Manajemen Biaya. Mendengar kata akuntansi dan manajemen biaya, sebagian dari Anda mungkin langsung merasa gentar. Di pikiran Anda mungkin membayangkan rumus-rumus matematika yang rumit, buku-buku tebal penuh angka, atau komputer-komputer mahal yang biasa digunakan oleh perusahaan raksasa di kota-kota besar. Namun, mari kita buang jauh-jauh anggapan yang salah itu. Sistem akuntansi dan manajemen biaya pada dasarnya bukanlah ilmu gaib atau barang mewah milik perusahaan besar. Pada tingkat yang paling sederhana dan paling praktis, kedua hal ini adalah sebuah peta navigasi dan alat bantu ingatan bagi Anda sebagai pemilik usaha. Kedua hal ini adalah cara berpikir yang sangat teratur untuk mencatat, merapikan, memahami, dan memegang kendali penuh atas setiap rupiah yang keluar dan masuk dalam usaha Anda.
Mari kita bahas terlebih dahulu apa itu yang dimaksud dengan penguatan Sistem Akuntansi untuk IKM. Jangan bayangkan akuntansi sebagai sesuatu yang menakutkan. Bagi pelaku IKM, sistem akuntansi paling dasar sebenarnya dimulai dari satu kebiasaan sederhana tetapi sangat berat godaannya untuk dilaksanakan, yaitu membiasakan diri mencatat. Pencatatan ini ibarat sebuah cermin lurus. Cermin tersebut akan memperlihatkan wajah asli dari bisnis Anda tanpa ada yang ditutup-tutupi. Banyak dari kita yang merasa usahanya sedang sangat sehat karena setiap hari melihat laci kasir dipenuhi lembaran uang kertas. Namun, tanpa adanya pencatatan yang rapi, lembaran uang kertas di laci kasir itu adalah sebuah godaan manis yang menipu.
Penyakit utama yang paling sering menghancurkan IKM di DIY adalah campur aduknya uang usaha dengan uang kantong pribadi. Ketika anak sekolah meminta uang jajan, pemilik usaha langsung mengambil lembaran sepuluh ribu dari laci toko. Ketika kompor di dapur rumah habis gas, uang kasir diambil lagi tanpa ada catatan. Saat malam hari ada acara sumbangan warga di RT, uang usaha dipetik lagi sedikit. Di akhir bulan, saat tagihan bahan baku dari pemasok datang atau saat karyawan menagih gaji, pemilik usaha menjadi bingung dan panik karena uang di laci mendadak tinggal sedikit. Ia kemudian merasa heran mengapa usahanya tidak menghasilkan uang, padahal barang dagangannya habis terjual. Langkah awal dalam membangun sistem akuntansi yang kuat adalah keberanian dan kedisiplinan Anda untuk memisahkan kedua kantong ini secara tegas. Uang toko adalah milik toko, dan uang rumah tangga adalah milik rumah tangga.
Sebagai pemilik usaha, Anda berhak mendapatkan uang untuk kebutuhan rumah tangga Anda, tetapi caranya bukan dengan asal mencopot uang dari laci toko setiap kali butuh. Anda harus menetapkan gaji untuk diri Anda sendiri secara tetap setiap bulannya, yang disesuaikan dengan kemampuan usaha. Jika Anda menetapkan gaji Anda dua juta rupiah sebulan, maka ambillah dua juta rupiah itu pada tanggal yang sudah ditentukan, lalu masukkan ke kantong rumah tangga. Setelah itu, laci toko menjadi area terlarang yang tidak boleh disentuh lagi untuk urusan pribadi. Jika di pertengahan bulan uang rumah tangga Anda habis, Anda harus belajar menghemat uang pribadi tersebut, bukan malah membobol laci toko lagi. Dengan memisahkan uang ini, Anda baru bisa melihat dengan jujur apakah toko Anda sebenarnya menghasilkan keuntungan atau justru selama ini hidup dari menggerogoti modal awal.
Setelah memisahkan uang pribadi dan uang usaha, langkah berikutnya dalam sistem akuntansi adalah mencatat setiap kejadian keuangan sekecil apa pun di dalam buku kas sederhana. Tidak perlu membeli program komputer yang mahal jika Anda belum terbiasa dengan teknologi. Sebuah buku tulis bergaris yang dibeli di fotokopi dekat rumah, sebuah penggaris, dan sebuah bolpoin sudah lebih dari cukup untuk memulai sejarah baru dalam usaha Anda. Buatlah kolom-kolom sederhana yang berisi tanggal, keterangan transaksi, uang masuk, uang keluar, dan sisa saldo akhir. Setiap kali Anda membeli benang, memborong tepung, membayar retribusi sampah, atau membayar bahan bakar motor untuk mengantar pesanan, langsung tulis saat itu juga di kolom uang keluar. Begitu pula saat ada pembeli yang membayar barang dagangan Anda, segera catat di kolom uang masuk. Jangan pernah mengandalkan ingatan kepala Anda, seberapa pun kuatnya ingatan Anda tersebut. Ingatan manusia sangat terbatas dan mudah lupa setelah terdistraksi oleh urusan lain, tetapi tulisan di atas kertas akan tetap ada dan tidak bisa berbohong.
Ketika sistem akuntansi dasar ini sudah berjalan dengan disiplin setiap hari, Anda secara otomatis telah membangun fondasi yang kokoh untuk menjalankan langkah vital kedua, yaitu Manajemen Biaya. Jika akuntansi bertugas mencatat sejarah tentang dari mana uang berasal dan ke mana uang pergi, maka manajemen biaya bertugas membedah dan mengatur pengeluaran-pengeluaran tersebut agar barang buatan Anda bisa dibuat dengan efisien, memiliki harga jual yang bersaing, tetapi tetap memberikan keuntungan yang tebal untuk Anda. Di sinilah letak rahasia mengapa ada dua pengusaha yang menjual barang yang sama dengan harga yang sama, tetapi yang satu bisa membangun rumah dan membeli mesin baru, sementara yang satunya lagi terus-menerus terlilit utang. Perbedaannya terletak pada seberapa jago mereka mengelola dan mengendalikan biaya produksi mereka.
Untuk bisa mengelola biaya dengan bijak, seorang pelaku IKM harus paham betul bahwa biaya dalam usahanya tidak semuanya sama. Dalam dunia usaha, biaya itu terbagi menjadi dua jenis utama yang harus Anda kenali sifatnya, yaitu biaya langsung dan biaya tidak langsung, atau yang sering juga dibedakan menjadi biaya variabel dan biaya tetap. Biaya langsung atau biaya variabel adalah uang yang harus keluar hanya jika Anda membuat barang. Sebagai contoh, jika Anda adalah pengrajin tas kulit di Manding, maka biaya langsung Anda adalah kulit sapi yang dipotong, retsleting, benang jahit, dan kain pelapis dalam tas. Jika Anda membuat sepuluh tas, Anda membutuhkan sepuluh set bahan tersebut. Jika Anda tidak membuat tas sama sekali minggu ini, Anda tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli kulit.
Di sisi lain, ada yang namanya biaya tidak langsung atau biaya tetap. Biaya ini sifatnya sangat keras kepala dan tidak mau tahu kondisi toko Anda. Ada atau tidak ada pesanan, laku atau tidak laku barang Anda, biaya ini tetap harus dibayar tepat waktu. Contohnya adalah uang sewa tempat usaha, biaya langganan listrik bulanan, air, retribusi kebersihan, serta gaji karyawan tetap yang dibayar bulanan. Banyak pelaku IKM DIY yang gulung tikar karena mereka hanya menghitung biaya bahan baku saat menentukan harga jual barangnya. Mereka merasa jika bahan pembuatan sebuah tas kulit adalah seratus ribu rupiah, lalu mereka menjualnya dengan harga seratus tiga puluh ribu rupiah, mereka sudah mengantongi keuntungan bersih sebesar tiga puluh ribu rupiah. Ini adalah kekeliruan yang sangat fatal. Mereka lupa bahwa tiga puluh ribu rupiah sisa itu masih harus menanggung beban sewa tempat, listrik, alat yang rusak, dan gaji karyawan. Akibatnya, ketika akhir bulan tiba, keuntungan yang dibayangkan itu hilang tidak berbekas untuk membayar biaya-biaya tidak langsung yang terlupakan tadi.
Dengan menerapkan manajemen biaya yang benar, Anda akan diajak untuk mengkalkulasi secara teliti berapa sebenarnya Biaya Pokok Produksi, atau modal asli dari setiap keping barang yang Anda hasilkan. Anda akan menjumlahkan harga bahan baku, ditambah dengan biaya tenaga kerja yang mengerjakan barang tersebut, lalu ditambahkan lagi dengan bagian keci-kecil dari biaya listrik, sewa tempat, dan alat yang aus. Setelah ketemu angka modal yang jujur dan seratus persen akurat ini, barulah Anda bisa menentukan harga jual yang aman. Anda menjadi tahu berapa harga minimal yang harus dipasang agar tidak rugi, dan berapa harga ideal yang harus ditawarkan kepada pembeli agar bisnis Anda mendapatkan laba yang pantas untuk berkembang.
Manajemen biaya juga memberikan Anda mata yang super tajam untuk melihat mana pengeluaran yang berguna dan mana pengeluaran yang sebenarnya adalah kebocoran yang menyedot uang Anda secara diam-diam. Di dalam proses produksi IKM, sering kali terjadi pemborosan yang tidak kita sadari karena sudah dianggap sebagai hal yang biasa. Misalnya pada IKM pembuatan kue atau makanan olahan, ada banyak bahan baku yang terbuang karena penyimpanan yang ceroboh sehingga bahan menjadi lembap dan busuk sebelum sempat dimasak. Atau pada IKM konveksi, kain sisa potongan yang sebetulnya masih bisa dimanfaatkan menjadi produk kecil seperti tempat pensil atau dompet, malah langsung dibuang begitu saja ke tempat sampah. Contoh lain adalah pemborosan penggunaan listrik atau air akibat mesin yang terus dibiarkan menyala padahal tidak sedang digunakan untuk bekerja.
Melalui manajemen biaya yang rapi, Anda bisa mulai melakukan perbaikan-perbaikan kecil tetapi berdampak raksasa. Anda bisa mulai menata ulang gudang penyimpanan agar bahan baku tidak cepat rusak, Anda bisa melatih karyawan untuk memotong bahan dengan lebih cermat agar sisa limbahnya berkurang, dan Anda bisa mematikan lampu atau mesin yang tidak terpakai. Setiap rupiah yang berhasil Anda hemat dari pemborosan-pemborosan kecil ini tidak akan hilang, melainkan akan langsung berubah menjadi tambahan keuntungan bersih yang masuk ke kas usaha Anda. Inilah yang dimaksud dengan peningkatan efisiensi operasional. Anda tidak perlu memeras tenaga lebih keras atau bekerja sampai larut malam hanya untuk menambah penghasilan, tetapi cukup dengan menutup keran-keran kebocoran kecil yang selama ini tanpa sadar menguras uang usaha Anda.
Ketika sebuah IKM di DIY sudah memiliki sistem akuntansi yang tertib dan manajemen biaya yang efisien, kekuatan dan daya saingnya di pasar akan melonjak drastis. Daya saing bukan sekadar cerita tentang produk kita kelihatan bagus di media sosial, melainkan tentang kemampuan usaha kita untuk bertahan, tumbuh, dan memenangkan hati pembeli dalam jangka waktu yang sangat panjang. Ada banyak manfaat luar biasa yang akan langsung dirasakan oleh pelaku IKM ketika dua sistem ini sudah bekerja dengan baik di dalam tempat usahanya.
Manfaat pertama adalah keberanian dan ketepatan dalam menentukan harga di pasar. Di daerah tujuan wisata seperti Yogyakarta, persaingan harga sangatlah ketat. Pembeli saat ini sangat pintar dan mudah membandingkan harga dari satu toko ke toko lainnya hanya melalui layar telepon genggam mereka. Jika Anda memasang harga terlalu mahal tanpa perhitungan yang jelas, barang Anda tidak akan laku dan menumpuk menjadi barang mati di gudang. Sebaliknya, jika Anda memasang harga terlalu murah karena panik ingin barangnya cepat laku, Anda mungkin akan kebanjiran pembeli tetapi usaha Anda akan mati secara perlahan karena kehabisan darah atau modal. Dengan sistem pencatatan yang rapi, Anda tahu persis batas paling bawah harga barang Anda. Anda bisa memberikan diskon khusus pada musim liburan atau penawaran harga grosir untuk pembeli borongan dengan hati yang tenang dan percaya diri, karena Anda tahu persis bahwa harga diskon tersebut masih memberikan sisa keuntungan yang cukup untuk usaha Anda.
Manfaat kedua adalah kemudahan dalam mengakses permodalan dari pihak luar, seperti perbankan atau program bantuan pemerintah. Kita semua tahu bahwa untuk melompat dari usaha kecil menjadi usaha menengah, kita sering kali membutuhkan mesin baru yang lebih cepat, tempat produksi yang lebih luas, atau modal kerja yang lebih besar untuk memenuhi pesanan dalam jumlah ribuan. Ketika Anda datang ke bank atau lembaga keuangan untuk mengajukan pinjaman modal usaha, hal pertama yang akan diminta oleh pihak bank bukanlah cerita manis tentang betapa enaknya produk Anda, melainkan buku catatan keuangan usaha Anda. Bank ingin melihat bukti hitam di atas putih apakah usaha Anda benar-benar menghasilkan uang dan apakah Anda memiliki kemampuan untuk mengembalikan pinjaman tersebut. IKM yang memiliki sistem akuntansi yang rapi, meskipun hanya dicatat di buku tulis sederhana, akan terlihat sangat profesional dan tepercaya di mata bank. Peluang Anda untuk mendapatkan pinjaman modal dengan bunga yang ringan akan terbuka lebar, sementara pengusaha yang hanya mengandalkan ingatan akan langsung ditolak karena dianggap terlalu berisiko.
Manfaat ketiga yang tidak kalah penting adalah kemudahan dalam mengelola dan memimpin karyawan. Ketika usaha Anda mulai berkembang dari yang tadinya dikerjakan sendiri oleh anggota keluarga menjadi usaha yang memiliki beberapa orang tetangga sebagai karyawan, masalah baru biasanya akan bermunculan jika tidak ada catatan yang jelas. Sering kali terjadi prasangka buruk atau perselisihan mengenai gaji, uang lembur, atau selisih uang kasir di akhir hari. Dengan adanya sistem akuntansi yang transparan, semua orang di tempat kerja memiliki patokan yang sama. Karyawan tahu apa yang menjadi tanggung jawab mereka, dan Anda sebagai pemilik usaha memiliki data yang objektif untuk menilai apakah kinerja karyawan Anda efisien atau justru banyak merugikan usaha. Ini menciptakan lingkungan kerja yang sehat, tenteram, dan penuh rasa saling percaya.
Proses membangun sistem akuntansi dan manajemen biaya ini memang tidak bisa terjadi dalam semalam seperti dongeng Roro Jonggrang yang membangun seribu candi. Ini adalah sebuah proses belajar dan pembentukan kebiasaan baru yang membutuhkan kesabaran serta ketekunan. Pemerintah Daerah DIY bersama berbagai lembaga sosial dan perguruan tinggi sebenarnya sudah sering menyediakan pelatihan-pelatihan gratis untuk membantu para pelaku IKM belajar mencatat keuangan secara praktis. Namun, kunci kemenangan paling utama tetap berada di tangan Anda sendiri sebagai pemilik usaha. Keputusan untuk berubah harus lahir dari dalam diri Anda sendiri. Anda harus berani keluar dari zona nyaman lama yang serba diperkirakan, lalu melangkah menuju cara kerja baru yang serba terukur.
Mulailah dari langkah yang paling kecil dan paling mudah hari ini juga. Jangan menunggu sampai besok atau minggu depan. Ambillah sebuah buku tulis kosong yang ada di rumah Anda, ambil penggaris, lalu buatlah garis-garis kolom kas sederhana. Tuliskan berapa sisa uang tunai usaha Anda hari ini di baris pertama. Pisahkan dompet uang belanja dapur istri dari dompet uang modal dagangan Anda. Bicaralah secara baik-baik dengan pasangan dan keluarga Anda tentang aturan baru ini, agar semua orang di rumah memahami dan mendukung langkah penting yang sedang Anda perjuangkan demi masa depan keluarga bersama.
Ingatlah selalu bahwa menjadi pengusaha IKM yang berdaya saing tinggi bukan berarti Anda harus berubah menjadi seorang akuntan berijazah sarjana atau ahli matematika yang jenius. Menjadi pengusaha cerdas berarti Anda mau menghargai setiap rupiah uang yang mengalir dari tetes keringat Anda sendiri dengan cara mencatatnya secara jujur dan mengelolanya secara bijaksana. Ketika seluruh pelaku IKM di Daerah Istimewa Yogyakarta sudah memiliki kesadaran tinggi untuk merapikan pencatatan keuangan dan memangkas pemborosan biaya di tempat usahanya masing-masing, maka produk-produk karya anak Jogja tidak hanya akan terkenal karena keindahan dan keunikannya saja. Produk-produk kita akan berdiri tegap sebagai pemenang di pasar nasional maupun internasional, disokong oleh perusahaan-perusahaan kecil yang sehat, mandiri, kaya secara finansial, dan siap menyejahterakan kehidupan seluruh masyarakat DIY dari generasi ke generasi.