Berita
PEMBUKAAN GEBYAR KULIT JOGJA 2026
Bantul, 9 Juni 2026. Sebuah gelaran yang mengangkat produk-produk kulit andalan Jogja dan mempertemukan para pelaku industri dalam satu ruang kolaborasi, secara resmi dibuka. Gebyar Kulit Jogja “Menembus Batas, Menjalin Kemitraan", acara ini hadir untuk membuka cakrawala baru bahwa kulit Jogja bukan hanya tentang produk berkualitas, tapi juga tentang koneksi, kolaborasi, dan keberanian melangkah lebih jauh.
Acara yang dilaksanakan di Ndalem Kulit Jogja pada 9 - 11 Juni 2026 ini digelar oleh Ndalem Kulit Jogja, Balai Pengembangan Teknologi Tepat Guna, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Daerah Istimewa Yogyakarta. Rangkaian kegiatan temu kemitraan dan gelar produk kulit dibuka secara simbolis dengan pemotongan pita oleh Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah DIY – GKR Bendara, Wakil Walikota Yogyakarta sekaligus Founder PT Alra Makmur Cahaya Selaras – Bpk. Wawan Harmawan, S.E., M.M., dan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY, Ibu Yuna Pancawati, S.E., M.Si. Pada acara hari ini juga menghadirkan Wakil Ketua ASITA Bidang Produk dan Pemasaran – Bapak Fachri Herkusuma, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi DIY, Kepala Dinas Pariwisata DIY, Kepala Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bantul, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul, Ketua Sinergi Industri Kerajinan Kulit Yogyakarta dan puluhan pelaku industri kerajinan kulit di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY menyampaikan bahwa Pemerintah DIY terus berkomitmen untuk memberikan dukungan kepada pelaku IKM dalam pengembangan usahanya terutama dalam hal ini adalah industri kerajinan kulit. Beliau menyampaikan bahwa industri kulit DIY memiliki potensi yang sangat besar. Produknya sudah dikenal luas dan memiliki kualitas yang mampu bersaing. Namun tantangan yang dihadapi pelaku IKM saat ini juga semakin kompleks, terutama terkait akses pasar, inovasi produk, dan penguatan jejaring usaha. Beliau menjelaskan bahwa penguatan kemitraan menjadi salah satu strategi yang dinilai efektif untuk membantu pelaku usaha berkembang lebih cepat.
Para tamu undangan dan narasumber yang hadir pada acara Temu Kemitraan hari pertama berdiskusi secara hangat dalam balutan acara Talkshow. Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah DIY, GKR Bendara menyampaikan berbagai pesan, ilmu dan motivasi terkait tantangan yang sedang dihadapi para pelaku IKM. Diantaranya adalah mengenai bagaimana mengembangkan dan memaksimalkan promosi dan pemasaran melalui media online dengan konten yang filosofis dan kreatif, bukan sekedar menawarkan sebuah produk namun juga menghadirkan rasa melalui cerita bagaimana karya berupa produk kulit tersebut dibuat.
Wakil Walikota Yogyakarta sekaligus Founder PT Alra Makmur Cahaya Selaras, Bapak Wawan Harmawan menyampaikan dukungan dan dorongan yang siap beliau curahkan untuk berkembangnya industri kerajinan kulit di Jogja. Menurut Beliau pengembangan industri kerajinan kulit ini harus dilakukan dengan lebih optimal dan secara kolaboratif. Oleh karena itu perlu dilakukan penguatan koneksi dan kolaborasi antara seluruh pihak yang terkait didalamnya. Dari diskusi ini Beliau langsung mengagendakan pertemuan lanjutan dengan para pelaku IKM untuk membahas secara lebih detail dan menentukan langkah - langkah selanjutnya.
Wakil Ketua ASITA Bidang Produk dan Pemasaran, Bapak Fachri Herkusuma membahas mengenai peluang yang baik untuk dikolaborasikan antara industri kerajinan kulit dengan pariwisata. Hal ini harus didukung dengan inovasi produk secara berkelanjutan sehingga menjadi salah satu faktor yang menjadi daya tarik para wisatawan terhadap produk kulit itu sendiri.
Acara hari kedua Temu Kemitraan masih dalam balutan acara Talkshow menghadirkan narasumber dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), dan Sinergi Industri Kerajinan Kulit Yogyakarta (SIKKY). Sekretaris Badan Pimpinan Daerah PHRI, Bapak Herman Tony menyampaikan tentang potensi dan peluang kemitraan antara PHRI dan IKM Kulit DIY diantaranya adalah display produk IKM di hotel maupun. Menurut Beliau, IKM kulit perlu aktif mempromosikan produknya melalui platform yang dikelola komunitas IKM sehingga semakin luas dikenal publik. Dari temu kemitraan ini Beliau meminta untuk komunitas IKM Kulit segera mengagendakan pertemuan selanjutnya dengan PHRI.
Ibu Nina Noviastuti dari GIPI menyampaikan bahwa IKM Kulit harus berevolusi, tidak hanya menjual produk tetapi juga menjadi laboratorium pengalaman kreatif yaitu tempat dimana wisatawan belajar, berkreasi, berbelanja, dan memahami nilai keberlanjutan dalam satu kunjungan. Oleh karena itu IKM Kulit harus mulai menjalin temu kemitraan dengan travel agent karena merekalah yang akan membawa wisatawan ke DIY. Travel agent mulai diundang dalam kegiatan pameran produk sehingga mereka bisa menentukan produk yang tepat dengan wisatawan yang akan dibawa.
Ketua SIKKY, Bapak Gondo Wicaksono Pribadi menyampaikan bahwa tantangan sebenarnya dari IKM Kulit adalah konektivitas dan kolaborasi. SIKKY hadir bukan sekedar sebagai organisasi atau komunitas, tetapi sebagai agregator yang sedang mengembangkan ketrampilan pengrajin, membangun jejaring dan kemitraan, promosi dan pemasaran bersama, serta kolaborasi antar pelaku industri. Harapannya ke depan IKM Kulit tidak hanya menjual produk saja tetapi juga bisa suplai hospitality amenities untuk hotel melalui kemitraan dengan PHRI, dan menjual paket tour edukasi melalui kemitraan dengan GIPI dan ASITA.
Rangkaian kegiatan temu kemitraan hari ketiga masih dalam balutan acara Talkshow dan ditutup oleh Bapak Anton Raharja selaku Kepala Balai Pengembangan Teknologi Tepat Guna. Diskusi hangat dalam bentuk Talkshow pada hari ketiga menghadirkan narasumber dari Out Of Asia (OOA), Oak Leather, dan Joglo Ayu Tenan. Direktur Operasional OOA, Bapak Arung Lusika menyampaikan bahwa bisnis OOA merupakan bisnis pemberdayaan dimana lebih dari 10.000 pengrajin tersebar di 5 pulau yaitu Jawa, Bali, Lombok, Sumatra dan Kalimantan. Oleh karena itu OOA sangat terbuka untuk membangun jejaring bisnis atau kemitraan dengan pengrajin kulit DIY.
Bapak Mirzani selaku Owner dari Oak Leather pada kesempatan ini menyampaikan tentang pentingnya kemitraan dan saat ini Oak Leather telah bermitra dengan 13 workshop pengrajin asli DIY yang menjadi bagian dari penting dari proses produksi. Oak Leather juga sangat terbuka untuk bermitra dengan IKM Kulit DIY. Di akhir diskusi, Bapak Mirzani berpesan bahwa bisnis yang berkelanjutan tidak dibangun oleh satu pihak saja, tetapi oleh jaringan kemitraan yang saling menguatkan dari hulu hingga hilir.
Pemilik Joglo Ayu Tenan, Ibu Yayuk Sukardan atau dikenal dengan Ibu Rahayu Dwiastuti menyampaikan tentang pengalaman Beliau dalam membangun Joglo Ayu Tenan dari model bisnis sampai strategi pemasaran. Beliau menyampaikan bahwa produk-produk kulit IKM DIY berpeluang untuk bisa dikembangkan ke dalam berbagai bentuk aktivitas seperti workshop berbasis edukasi dan pengalaman budaya.
Gebyar Kulit Jogja Tahun 2026 ini diharapkan dapat menjadi salah satu pemicu dan pemacu bagi berkembangnya industri kerajinan kulit. Kami berharap sinergi antara seluruh pihak terkait dapat semakin terjalin dengan baik melalui kemitraan yang bermanfaat bagi semua pihak.