Berita


Griya Batik Jogja Jadi Ruang Edukasi untuk Jaga Predikat Kota Batik Dunia

03 September 2026 Berita

JOGJA— Sejak diresmikan tahun lalu, Griya Batik Jogja mulai disiapkan sebagai ruang edukasi sekaligus promosi batik Jogja. Tidak  hanya menampilkan koleksi batik Keraton, Puro Pakualaman dan kabupaten/kota di DIY, tempat ini juga disiapkan sebagai ruang untuk mengenalkan sejarah, filosofi, hingga proses pembuatan batik.

Ketua Tim Pengelola Griya Batik, Tazbir Abdullah, menyampaikan Jogja sudah ditetapkan sebagai Kota Batik Dunia sejak 2014 oleh World Crafts Council (WCC) setelah melalui proses penilaian yang cukup ketat.

Dia mengatakan saat itu, sejumlah daerah seperti Solo, Pekalongan, dan Cirebon juga mengikuti penilaian, tetapi Jogja yang akhirnya ditetapkan sebagai Kota Batik Dunia. Menurutnya, Jogja dipilih karena memiliki tradisi batik yang masih terjaga.

Selain sejarah dan filosofi yang kuat, batik di Jogja juga terus berkembang sebagai bagian dari aktivitas ekonomi dan telah memiliki pengakuan di tingkat internasional.

"Setelah Jogja ditetapkan sebagai Kota Batik Dunia kita berusaha menjaga bahwa status Jogja Kota Batik Dunia itu tetap bisa dipertanggungjawabkan secara nasional maupun internasional," ujarnya ditemui di Kantor Dekranasda DIY, Jumat (21/8/2026).

Ia menilai batik memiliki posisi penting dalam budaya Jogja karena menjadi warisan leluhur yang terus dilestarikan. Tradisi batik di Jogja juga tidak terlepas dari sejarah Keraton, yang mengenal sejumlah motif khusus dan pada masa tertentu hanya boleh dikenakan oleh keluarga kerajaan, dan lainnya.

Tazbir menyampaikan salah satu tugas Griya Batik adalah melestarikan batik. Dalam upaya melestarikan batik, diperlukan ruang yang bisa menjadi tempat masyarakat melihat, mengenal, sekaligus mempelajari batik.

"Melalui Griya Batik ini kita bisa mengedukasi batik kepada masyarakat, tapi juga bisa menjadi tempat wisatawan berkunjung. [Griya Batik] tidak berorientasi pada bisnis penjualan, tapi mempromosikan batik," jelasnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan tantangan Griya Batik saat ini adalah tidak mendapat pembiayaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Oleh karena itu, pengelola harus mencari dukungan melalui berbagai kerja sama.

Ia mengatakan kunjungan ke Griya Batik sangat bergantung pada upaya promosi dan pengenalan kepada masyarakat. Pengelola akan memanfaatkan media sosial untuk memperluas informasi mengenai keberadaan Griya Batik, termasuk menggandeng anak muda dan influencer yang memiliki perhatian terhadap batik.

Mereka diharapkan dapat ikut mempromosikan Griya Batik melalui media sosial. Selain itu, pengelola juga terbuka terhadap dukungan sponsor untuk kegiatan promosi.

"Kalau sekarang batik itu baru dari ada dari Puro, Pakualaman, dan batik Keraton. Kemudian yang kita minta dari kabupaten/kota. Jadi dikurasi oleh Dekranasda masing-masing kabupaten/kota. Griya Batik ini harus menjadi milik bersama," ungkapnya.

Menurutnya, Griya Batik juga ditujukan untuk wisatawan sebagai sarana edukasi agar mereka dapat mengenal batik Keraton, mulai dari motif hingga filosofinya.

Hal ini dinilai penting karena akses wisatawan untuk melihat batik Keraton secara langsung di dalam Keraton kini semakin terbatas. Dengan demikian, wisatawan yang berkunjung ke Jogja tidak hanya melihat batik, tetapi juga mendapatkan pengalaman dan pemahaman mengenai sejarah serta makna di balik setiap motif batik.

"Tahun ini kami sudah mulai garap. Dari Keraton, Tamansari, Griya Batik itu kan dekat sekali, jadi harus ada komunikasi dengan pelaku di industri pariwisata," lanjutnya. (**)