Berita
Koleksi Griya Batik “Jogja Kota Batik Dunia” dan Pengembangan Desain Motif Batik
Griya Batik “Jogja Kota Batik Dunia” terbuka bagi masyarakat yang akan berkunjung secara gratis baik bagi para perajin/pengusaha batik, wisatawan, pelajar/mahasiswa maupun umum. Griya Batik berlokasi di Jl. Patehan Lor No. 34, Patehan, Kraton, Yogyakarta dan memiliki berbagai macam koleksi batik. Koleksi Batik khas Yogyakarta yang ditampilkan di Griya Batik JKBD meliputi:
a. Batik yang dipakai dalam siklus daur kehidupan manusia Jawa, dilengkapi dengan deskripsinya, yang meliputi batik yang dipakai ketika:
- Kelahiran dan perawatan ari-ari,
- Menggendong Bayi,
- Tedhak Sitèn,
- Khitanan/Supitan,
- Tetesan,
- Tarapan,
- Upacara Ruwatan,
- Pernikahan,
- Lamaran,
- Pingitan,
- Siraman,
- Midodareni,
- Ijab dan Panggih,
- Kematian, dan
- Labuhan.
b. Batik Keraton Yogyakarta, yang memiliki ciri khas sebagai berikut:
- Wastra batik (selembar kain/sandang yang memiliki sarat makna dari dimensi budaya) dengan pola tradisional, terutama yang semula tumbuh dan berkembang di keraton-keraton Jawa.
- Pembuatan batik yang pada tahap pembatikannya hanya dikerjakan oleh putri-putri di lingkungan keraton dipandang sebagai kegiatan penuh nilai kerohanian yang memerlukan pemusatan pikiran, kesabaran, dan kebersihan jiwa dengan dilandasi permohonan, petunjuk, dan ridha Tuhan Yang Maha Esa.
- Tata susun ragam hias dan pewarnaannya merupakan perpaduan antara seni, adat, pandangan hidup, dan kepribadian lingkungan keraton.
- Mempertahankan motif dan corak batik Mataram dengan latar putih (péthak).
- Konsep pandangan hidup, keelokan, keindahan, dan ekspresi yang megah, agung atau adi luhung.
- Menggunakan warna cemerlang/bersih dan kontras serta pola geometri khas, besar-besar, dan sebagian di antaranya diperkaya dengan parang dan nitik.
- Kain batik dari Keraton Yogyakarta berwarna latar putih murni/bersih. Paduan soga dan putih sangat kontras sehingga membuat bidang putihnya tampak mencolok.
- Ragam isèn-isèn memakai titik-titik halus yang dinamakan cécék yang lebih rumit.
- Kain batik pola lereng di Yogyakarta dikenakan miring dari kiri atas ke kanan bawah.
c. Batik Pura Pakualaman, yang tampil dalam paduan antara pola batik keraton Yogyakarta dan warna batik keraton Surakarta. Gaya pola dan warna batik pura Pakualaman mulai berubah sejak Sri Pakualam VII mempersunting putri Sri Susuhunan Pakubuwono X. Putri Keraton Surakarta inilah yang memberi warna dan nuansa Surakarta pada batik Pura Pakualaman sehingga pola batik Pura Pakualaman kemudian tampil dalam paduan antara pola batik keraton Yogyakarta dan warna batik keraton Surakarta.
d. Pengembangan Batik Yogyakarta, yaitu dari ciri khas corak batik Yogyakarta kemudian muncul keragaman wastra batik dan produk batik dalam lingkup:
- batik yang dikembangkan oleh para saudagar/sudagaran,
- batik Nitik Yogyakarta,
- batik pedesan/petani/rakyat,
- batik yang dikembangkan oleh kabupaten/kota di DIY sebagai penanda daerah,
- batik yang dikembangkan oleh pelaku IKM (Industri Kecil Menengah),
- batik sebagai media seni lukis yang dielaborasi oleh para perupa/pelukis,
- batik yang dikreasikan oleh para fashion designer dan rumah mode,
- serta batik/produk batik/aksesoris yang dikembangkan pada ranah industri kreatif.
Koleksi-koleksi batik ini ditata pada ruangan masing-masing. Ruang depan bangunan Griya Batik terdapat koleksi batik dalam siklus daur kehidupan manusia. Ruang tengah terdapat koleksi batik Keraton Yogyakarta dan Pura Pakualaman. Sayap timur untuk koleksi batik Sudagaran dan batik Rakyat. Ruang sebelah timur untuk koleksi batik Kabupaten/Kota di DIY dan pelaku IKM. Sayap barat untuk koleksi batik Nitik Yogyakarta dan edukasi batik asli. Ruang sebelah barat untuk koleksi batik para fashion designer, pengembangan industri kreatif batik serta ruangan untuk perpustakaan dan kursi tamu.
Di bagian belakang bangunan Griya Batik diperuntukkan untuk Workshop Membatik yang tersedia perlengkapan membatik dan dapat digunakan pengunjung untuk praktek membatik. Selain itu juga terdapat meja kursi pertemuan yang dapat digunakan untuk forum diskusi pengembangan batik. Griya batik memiliki fasilitas halaman yang cukup luas yang dapat digunakan untuk parkir kendaraan baik roda empat maupun roda dua serta dapat digunakan untuk bazar, workshop dan aktivitas lainnya. Selain itu, bangunan Griya Batik yang khas dan tradisional dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk belajar arsitektur Jawa. Ke depan, koleksi, display dan sarana Griya Batik akan terus diperbaiki sehingga dapat melayani pengunjung dan masyarakat dengan lebih baik.